Amanah Travel Umroh

Tata cara umroh sesuai sunnah itu sebenarnya sederhana: ihram dari miqat, thawaf 7 putaran, sa’i 7 kali, lalu tahallul. Di artikel ini anda dapat versi langkah ringkas + daftar kesalahan umum yang paling sering bikin jamaah panik.

Tata Cara Umroh Sesuai Sunnah: Langkah Ringkas + Kesalahan Umum

Ka'bah dan jamaah thawaf saat umroh di Makkah
Sumber: Unsplash (Sam Riz) — Lisensi: Unsplash License

Untuk pemula yang ingin pegangan cepat (tanpa hafalan doa per putaran), artikel ini memprioritaskan urutan rukun dan praktik sunnah yang mudah dilakukan.

Untuk jamaah yang sudah pernah, bagian “kesalahan umum” dan “yang jarang dibahas” membantu anda menghindari kebiasaan yang tidak berdalil, sekaligus menghemat tenaga saat di Masjidil Haram.

Kalau anda mencari “tata cara umroh sesuai sunnah”, inti jawaban para ulama sebenarnya satu: kerjakan rukun umroh dengan urutan yang benar, jauhi larangan ihram, lalu isi waktu dengan dzikir dan doa yang umum (bukan “paket bacaan khusus tiap putaran”). Rujukan populer di Indonesia adalah panduan Rumaysho yang rinci dan mudah diikuti, misalnya: Tata Cara Pelaksanaan Umrah (Rumaysho), Panduan Umrah Ringkas (1), dan Panduan Umrah Ringkas (2). Untuk pembanding resmi langkah akhir tahallul, anda juga bisa cek ringkasan di Nusuk (Umrah Journey).

Ringkasan

Rukun umroh: (1) ihram dari miqat, (2) thawaf umroh 7 putaran, (3) sa’i 7 kali antara Shafa–Marwah, (4) tahallul (halq/taqshir), dan tertib. Praktik sunnah yang sering ada di thawaf: memulai dari Hajar Aswad, raml (jalan cepat kecil) pada 3 putaran pertama bagi laki-laki bila memungkinkan, dan berdoa dengan doa umum. Kesalahan paling sering: melewati miqat tanpa ihram, dorong-dorongan ingin mencium Hajar Aswad, dan menganggap wajib doa tertentu tiap putaran.

Daftar Isi

Inti Penting

  • Pegang rukun: ihram dari miqat → thawaf 7 → sa’i 7 → tahallul. Ini yang membuat umroh sah.
  • Doa tidak harus “paket per putaran”; cukup dzikir dan doa umum. Hindari keyakinan bahwa ada bacaan wajib tiap putaran.
  • Jangan tunda ihram sampai Jeddah kalau sudah melewati miqat—ini kesalahan klasik (lihat pembahasan IslamQA).
  • Utamakan keselamatan: tidak perlu memaksa menyentuh Hajar Aswad atau berdesakan di Rukun Yamani.
  • Perempuan haid: tetap ihram dan bisa sa’i, namun tidak boleh thawaf sampai suci.

Persiapan Sebelum Ihram

Bagian ini terasa “sepele”, tetapi biasanya menentukan apakah anda panik di bandara atau tidak. Rumaysho membahas persiapan sebelum mengenakan ihram, termasuk mandi dan aturan parfum, di Panduan Umrah Ringkas (1).

Checklist sebelum miqat (praktis)

  • Mandi sunnah sebelum ihram (laki-laki dan perempuan; termasuk yang haid tetap boleh mandi).
  • Laki-laki: pakai kain ihram (izar & rida) dan sandal; jangan pakai pakaian berjahit yang membentuk badan.
  • Perempuan: pakaian menutup aurat seperti biasa; tidak memakai penutup wajah (niqab) dan sarung tangan ketika ihram.
  • Siapkan sabuk/ikat pinggang ihram dan sandal yang nyaman; ini menyelamatkan anda dari “berantem sama kain” saat thawaf.
  • Simpan catatan: miqat rombonganmu apa (tergantung rute). Kalau ragu, tanya pembimbing sebelum boarding.

Larangan ihram versi singkat

  • Menggunakan wangi-wangian setelah berniat ihram.
  • Memotong rambut/kuku, berburu, dan hubungan suami-istri selama masih ihram.
  • Laki-laki: menutup kepala dengan penutup yang melekat; memakai pakaian berjahit yang dipakai seperti baju/celana.

Catatan: ada rincian pengecualian dan kondisi darurat; jika anda punya kondisi medis, konsultasikan ke pembimbing/ustadz sebelum berangkat.

Langkah Ringkas Tata Cara Umroh Sesuai Sunnah

Di bagian ini kita buat “alur kerja” yang mudah diikuti.

1) Ihram dari miqat + talbiyah

  • Di miqat (atau saat sejajar miqat jika lewat pesawat), berniat umroh dan mulai bertalbiyah.
  • Talbiyah yang masyhur: Labbaikallāhumma labbaik, labbaika lā syarīka laka labbaik…
  • Mulai saat ini, anda menjaga larangan ihram sampai tahallul.

Kesalahan yang sering terjadi adalah menunda ihram sampai Jeddah. IslamQA membahas kesalahan ini: islamqa.info/id/answers/33738.

2) Thawaf umroh 7 putaran

  • Masuk Masjidil Haram dengan tenang, lalu mulai thawaf dari garis sejajar Hajar Aswad.
  • Thawaf 7 putaran berlawanan arah jarum jam, menjaga Ka’bah di sisi kiri.
  • Jika memungkinkan tanpa menyakiti orang, sunnahnya istilam (menyentuh) Hajar Aswad atau isyarat dari jauh; tidak wajib mencium.

3) Shalat 2 rakaat setelah thawaf

Setelah selesai thawaf, shalat 2 rakaat (jika memungkinkan) di area yang tidak mengganggu orang. Banyak jamaah memaksakan tepat di belakang Maqam Ibrahim hingga mengganggu arus; padahal yang penting shalatnya, bukan lokasinya.

4) Sa’i antara Shafa dan Marwah

Setelah thawaf, menuju Shafa untuk memulai sa’i. Seri Rumaysho “Panduan Umrah Ringkas (2)” menjelaskan urutan sa’i, termasuk membaca ayat “Innash shafā wal marwata…” ketika mendekati Shafa: rumaysho.com/5810.

  • Sa’i 7 kali: start dari Shafa, finish di Marwah (itu dihitung 1 kali).
  • Laki-laki disunnahkan berlari kecil di antara dua tanda hijau (bagian tertentu), jika kondisi memungkinkan.
  • Doa saat sa’i juga tidak wajib “paket”; bacalah dzikir/doa umum yang anda pahami.

5) Tahallul: halq/taqshir

Setelah thawaf dan sa’i, selesaikan umroh dengan tahallul: mencukur habis (halq) atau memendekkan rambut (taqshir). Nusuk (platform resmi) menegaskan poin ini dan bedanya laki-laki vs perempuan: umrah.nusuk.sa/Journey.

  • Laki-laki: halq (lebih utama) atau taqshir (memendekkan merata).
  • Perempuan: memotong sekitar 1–2 cm dari ujung rambut (cukup).

Sunnah yang Sering Terlewat (Tapi Mudah Dilakukan)

Bagian ini opsional—umroh tetap sah tanpa sebagian sunnah—namun membantu anda lebih “rapi” mengikuti tuntunan.

Idtiba’ & raml pada thawaf (khusus laki-laki)

  • Idtiba’: membuka bahu kanan (kain ihram diselempangkan) saat thawaf tertentu, sesuai pembahasan ulama.
  • Raml: berjalan cepat kecil pada 3 putaran pertama bagi laki-laki jika mampu dan tidak membahayakan.

Rukun Yamani: cukup diusap, tidak dicium

Rukun Yamani disunnahkan diusap jika mampu; tidak dianjurkan mencium. Kalau tidak bisa, tidak perlu isyarat dari jauh.

Kapan talbiyah berhenti?

Secara praktik, talbiyah dibaca sejak ihram sampai mulai thawaf. Setelah masuk thawaf, fokus pada dzikir/doa thawaf. Jika pembimbingmu punya kebiasaan tertentu, pastikan tidak menjadikannya “wajib”.

Kesalahan Umum dan Cara Menghindarinya

Ini bagian yang paling “menghemat tenaga”. Satu kesalahan kecil bisa bikin anda harus kembali ke titik tertentu, atau minimal bikin stres seharian.

Salah miqat: ihram ditunda sampai Jeddah

  • Gejala: baru niat ihram setelah mendarat; alasan: “biar nyaman di pesawat”.
  • Risiko: melewati miqat tanpa ihram adalah pelanggaran; perlu penanganan fiqih sesuai bimbingan.
  • Solusi praktis: mandi dan pakai kain ihram dari rumah/airport, lalu niat saat mendekati/sejajar miqat.

Salah thawaf: doa per putaran & dorong-dorongan

  • Gejala: membawa buku “doa putaran 1–7” dan merasa wajib dibaca; memaksa cium Hajar Aswad sampai menyakiti orang.
  • Solusi: baca doa umum; kalau ingin contoh, pilih doa pendek yang mudah. Hindari dorong-dorongan.

Salah sa’i: ragu hitungan & salah start

  • Gejala: mulai sa’i dari Marwah, atau lupa apakah sudah 6 atau 7.
  • Solusi: ingat aturan sederhana: start Shafa, finish Marwah, total 7 kali. Pakai penghitung (counter) atau catatan di HP—asal tidak mengganggu kekhusyukan.

Salah tahallul: potong rambut terlalu sedikit

  • Gejala: hanya memotong 1–3 helai rambut, atau memotong tidak merata.
  • Solusi: potong merata. Untuk perempuan cukup 1–2 cm dari ujung rambut.

Panduan Cepat untuk Perempuan

Umroh perempuan punya beberapa kondisi khusus, terutama soal haid dan larangan ihram. Banyak kekeliruan terjadi karena “takut salah”, padahal ada kaidahnya.

Haid: boleh ihram, tapi tidak thawaf

Perempuan yang haid tetap ihram dari miqat dan boleh menjalankan sebagian manasik seperti sa’i, namun tidak boleh thawaf sampai suci. Jika bingung dengan detail kasus (misalnya jadwal pulang), segera konsultasikan ke pembimbing/ustadz rombongan.

Pakaian & larangan yang sering salah paham

  • Perempuan boleh memakai pakaian biasa yang menutup aurat (tidak harus warna tertentu).
  • Yang dilarang adalah niqab (penutup wajah yang melekat) dan sarung tangan saat ihram.
  • Perempuan tahallul cukup memotong ujung rambut sedikit (1–2 cm).

Apa yang Jarang Dibahas

1) Manajemen energi itu bagian dari sunnah “memudahkan”. Banyak jamaah mengira umroh harus “maksimal” dari sisi ritual: harus dekat Ka’bah, harus memaksakan shalat tepat di titik tertentu, harus menyentuh semua sudut. Akibatnya, tenaga habis di 2 jam pertama, lalu sisa hari jadi lemas. Padahal, umroh yang sesuai sunnah justru menolak mudarat: tidak menyakiti orang, tidak membahayakan diri, dan tidak membuat ibadah lain terbengkalai. Pilih waktu yang lebih sepi untuk thawaf kalau memungkinkan, dan jangan ragu memilih waktu yang lebih longgar (misalnya setelah puncak jam ramai) agar ibadah lebih nyaman.

2) Banyak “kesalahan” lahir dari salah target: mengejar simbol, bukan makna. Contoh paling jelas adalah Hajar Aswad. Sunnahnya memang ada, tetapi tidak pernah menjadi syarat sah. Ketika simbol dikejar mati-matian sampai dorong-dorongan, yang hilang justru adab dan kekhusyukan. Ini sebabnya para ulama berulang kali menekankan: jika tidak bisa menyentuh, cukup isyarat dari jauh—dan fokus pada doa.

3) “Doa per putaran” sering jadi beban mental. Jamaah pemula takut salah baca, takut lompat halaman, akhirnya thawaf berubah jadi membaca cepat sambil menoleh buku. Padahal, doa terbaik adalah yang anda pahami dan hadir hatinya. Kalau ingin struktur, pakai pola sederhana: puji Allah, shalawat, minta ampun, lalu minta hajat. Ulangi saja. Ini lebih realistis daripada memaksa 7 paragraf doa khusus.

4) Kesalahan hitungan sa’i dan thawaf sering terjadi karena kurang “penanda”. Solusi sederhana: tentukan “tanda start” yang anda ingat (misalnya pilar/nomor pintu), lalu gunakan jari sebagai penghitung. Tidak perlu aplikasi canggih. Yang penting, anda yakin jumlah putaran.

5) Setelah tahallul, jangan lupa “transisi”. Banyak orang langsung lepas kain ihram dan lupa bersyukur. Padahal momen selesai umroh itu bagus untuk sujud syukur (di tempat yang memungkinkan), sedekah, atau minimal doa singkat meminta diterima amal. Ini bukan ritual wajib, tetapi kebiasaan baik yang menguatkan rasa syukur dan menjaga hati.

FAQ

Apakah niat umroh harus dilafalkan keras?

Tidak perlu. Niat itu tempatnya di hati. Melafalkan keras sering malah mengganggu orang lain. Fokus pada berniat saat miqat dan membaca talbiyah.

Bolehkah sa’i ditunda setelah thawaf?

Boleh selama masih dalam rangkaian umroh dan anda masih dalam keadaan yang membolehkan (belum tahallul). Banyak jamaah istirahat sebentar karena padat atau lelah. Yang penting urutannya tetap: thawaf dulu, lalu sa’i.

Kalau lupa sa’i lalu sudah tahallul, bagaimana?

Ini kasus fiqih yang perlu bimbingan langsung karena detailnya memengaruhi solusi. Secara umum, sa’i adalah rukun; jika benar-benar belum dilakukan, umroh belum selesai. Segera konsultasikan ke pembimbing/ustadz rombongan agar ditangani sesuai kondisi.

Apakah harus mencium Hajar Aswad supaya umroh sah?

Tidak. Itu sunnah jika memungkinkan tanpa menyakiti orang. Jika tidak bisa, cukup isyarat dari jauh. Menghindari mudarat dan menjaga adab lebih utama.

Daftar Istilah

Ihram
Keadaan khusus dimulai dari miqat dengan niat umroh/haji, disertai larangan-larangan tertentu.
Miqat
Batas tempat/waktu untuk memulai ihram sesuai rute kedatangan.
Thawaf
Mengelilingi Ka’bah 7 putaran berlawanan arah jarum jam.
Sa’i
Berjalan 7 kali antara Shafa dan Marwah; start Shafa, finish Marwah.
Tahallul
Keluar dari ihram dengan mencukur atau memotong rambut (halq/taqshir).
Raml
Jalan cepat kecil pada thawaf tertentu (khusus laki-laki), bila mampu dan aman.

Penutup

Tata cara umroh sesuai sunnah bukan soal “banyaknya bacaan”, melainkan kerapian mengikuti rukun dan adab. Kalau anda mengingat empat rukun (ihram–thawaf–sa’i–tahallul) dan menghindari kesalahan besar (melewati miqat tanpa ihram, dorong-dorongan, menganggap ada doa wajib per putaran), insyaAllah umroh jadi lebih tenang.

Untuk pendalaman, baca panduan rinci dari Rumaysho dan bandingkan dengan ringkasan resmi Nusuk. Semoga Allah mudahkan, menerima umroh, dan menjadikan perjalananmu penuh keberkahan. Āmīn.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top