Amanah Travel Umroh

Panduan tata cara shalat safar sebelum berangkat umroh: niat shalat sunnah 2 rakaat (opsional), langkah singkat, plus cara jamak dan qashar agar shalat tetap rapi selama perjalanan.

Tata Cara Shalat Safar Sebelum Berangkat Umroh: Niat + Tata Cara Singkat

Kaabah di Masjidil Haram sebagai simbol tujuan perjalanan umroh
Sumber: Wikimedia Commons — Lisensi: CC BY 2.0

Untuk siapa artikel ini? Untuk jamaah umroh pemula (atau keluarga yang mengantar) yang ingin berangkat dengan tenang, tahu mana yang sunnah, mana yang keringanan safar, dan tidak “keblinger” soal jamak-qashar.

Kalau anda cuma punya 10 menit: baca bagian “Niat dan Tata Cara Shalat Sunnah Safar 2 Rakaat (Praktis)” lalu “Checklist Shalat Wajib Saat Perjalanan”. Setelah itu, anda sudah punya pegangan paling penting.

Dalam praktik di Indonesia, istilah “shalat safar sebelum berangkat” sering dipakai untuk dua hal: (1) shalat sunnah 2 rakaat sebelum meninggalkan rumah (sebagian ulama menganjurkan), dan (2) keringanan shalat wajib saat bepergian, yaitu qashar (memendekkan) dan jamak (menggabungkan). Artikel ini merapikan keduanya, supaya anda bisa pilih yang sesuai manhaj/rujukan yang anda ikuti.

Catatan penting: yang paling wajib dijaga adalah shalat fardhu tepat waktu (sebisa mungkin), sedangkan shalat sunnah sebelum safar itu statusnya tidak sama di setiap rujukan—ada yang menganjurkan, ada yang menilai dalilnya lemah. Kita bahas dengan jujur dan praktis.

Ringkasan

Shalat safar sebelum berangkat umroh bisa dipahami sebagai: (a) shalat sunnah 2 rakaat sebelum keluar rumah (opsional, ada khilaf dalil), dan (b) panduan shalat wajib selama perjalanan dengan jamak dan/atau qashar (keringanan yang diakui dalam fiqih). Kalau anda ikut rujukan yang menganjurkan shalat sunnah safar, cukup 2 rakaat seperti shalat sunnah biasa. Setelah itu, fokus ke strategi jamak-qashar sesuai kondisi perjalanan (bandara, pesawat, transit, dan seterusnya).

Daftar Isi

Inti Penting

  • Utamakan shalat fardhu—jangan sampai “sibuk sunnah” tapi lalai yang wajib.
  • Shalat sunnah sebelum safar ada yang menganjurkan, ada yang melemahkan dalilnya; pilih sesuai rujukan.
  • Qashar = Zhuhur/Ashar/Isya jadi 2 rakaat (Maghrib & Subuh tidak diqashar).
  • Jamak = menggabungkan Zhuhur+Ashar atau Maghrib+Isya (taqdim atau ta’khir) sesuai kebutuhan.
  • Mulai qashar setelah benar-benar keluar batas daerah mukim; praktik rincinya mengikuti mazhab/rujukan yang anda pegang.

Apa Itu Shalat Safar?

Safar dalam fiqih singkat

Safar adalah kondisi bepergian yang oleh syariat diberi keringanan (rukhsah) dalam beberapa ibadah, termasuk shalat. Keringanan paling dikenal adalah boleh mengqashar dan/atau menjamak shalat fardhu tertentu. Detail syaratnya (jarak, niat safar, apakah sudah keluar batas kota, berapa lama tinggal di tujuan) berbeda antar mazhab dan juga antar ulama kontemporer. Kalau anda ikut rujukan yang membatasi jarak, banyak rujukan tradisi Syafi’iyah menyebut kisaran 2 marhalah sekitar 80–85 km sebagai patokan praktis.

Rujukan yang bisa anda baca: https://nu.or.id/syariah/tata-cara-dan-ketentuan-qashar-shalat-ecxrA dan https://rumaysho.com/38992-berapa-jarak-safar-yang-membolehkan-qashar-shalat-menurut-hadits.html.

Bedanya “shalat safar” vs jamak-qashar

Di artikel NU Online, istilah “shalat sunnah safar” dipakai untuk shalat sunnah 2 rakaat ketika hendak bepergian. Sementara dalam fiqih shalat musafir, orang sering menyebut “shalat safar” untuk praktik qashar/jamak. Jadi, jangan kaget kalau anda melihat orang membahas “shalat safar” dengan isi yang berbeda: mereka sedang membahas label yang sama untuk dua topik yang berbeda.

Rujukan shalat sunnah safar: https://nu.or.id/shalat/tata-cara-shalat-safar-saat-hendak-bepergian-D3Ul0.

Apakah Ada Shalat Sunnah Sebelum Berangkat?

Dalil yang sering dikutip

Beberapa rujukan menyebutkan anjuran shalat 2 rakaat sebelum safar, dengan riwayat yang dinukil di artikel NU Online (misalnya dari Ath-Thabrani) dan juga penjelasan etika safar di literatur Syafi’iyah. Praktiknya sederhana: 2 rakaat seperti shalat sunnah biasa, diniatkan sebagai shalat sunnah safar untuk memohon penjagaan dan keselamatan perjalanan.

Catatan derajat hadis dan perbedaan pendapat

Di sisi lain, ada rujukan yang menyatakan hadis-hadis khusus tentang shalat sunnah sebelum safar berderajat lemah sehingga tidak bisa dijadikan landasan amalan khusus. Contohnya dibahas di Portal PERSIS: https://persis.or.id/istifta/read/shalat-sunat-sebelum-safar.

Kesimpulan praktisnya begini: kalau keluarga/rombongan anda terbiasa mengerjakan shalat sunnah 2 rakaat sebelum berangkat, anda boleh ikut sebagai amalan sunnah (mengharap kebaikan) menurut rujukan yang menganjurkan. Tapi jangan menjadikannya “syarat berangkat”, dan jangan menilai orang lain salah kalau mereka tidak mengerjakan karena mengikuti rujukan yang melemahkan dalilnya.

Niat dan Tata Cara Shalat Sunnah Safar 2 Rakaat (Praktis)

Niat shalat sunnah safar

Niat di hati sudah cukup. Kalau ingin dilafalkan, gunakan redaksi yang mudah dipahami, misalnya: “Saya niat shalat sunnah safar dua rakaat karena Allah Ta’ala.” Tidak perlu memaksa satu versi bahasa Arab tertentu kalau anda tidak yakin; yang penting maksudnya jelas.

Langkah 8 menit di rumah

  1. Ambil wudhu seperti biasa.
  2. Pilih tempat yang tenang (ruang tamu/kamar) dan pastikan arah kiblat semampunya.
  3. Shalat 2 rakaat seperti shalat sunnah pada umumnya (takbir, Al-Fatihah, surat pendek, ruku’, sujud, rakaat kedua, tasyahud, salam).
  4. Setelah salam, berdoa singkat: minta keselamatan, kemudahan, dan dijauhkan dari musibah di jalan.
  5. Tambahkan doa keluar rumah dan doa safar sesuai hafalan anda (tidak perlu panjang).

Kalau anda sedang dikejar waktu (misalnya sudah dijemput), “versi minimal” adalah 2 rakaat + doa singkat 30 detik. Fokusnya bukan lamanya, tapi memulai safar dengan kesadaran dan tawakal.

Checklist Shalat Wajib Saat Perjalanan (Jamak & Qashar)

Kapan boleh qashar

Qashar hanya untuk shalat 4 rakaat: Zhuhur, Ashar, Isya menjadi 2 rakaat. Maghrib tetap 3, Subuh tetap 2. Banyak rujukan menjelaskan bahwa qashar dilakukan saat benar-benar berstatus musafir dan perjalanan bukan untuk maksiat. Rujukan jarak dan syarat praktis bisa anda baca di: https://nu.or.id/syariah/tata-cara-dan-ketentuan-qashar-shalat-ecxrA dan pembahasan perhitungan jarak di: https://rumaysho.com/38992-berapa-jarak-safar-yang-membolehkan-qashar-shalat-menurut-hadits.html.

Kapan boleh jamak

Jamak menggabungkan dua shalat dalam satu waktu: Zhuhur+Ashar atau Maghrib+Isya. Ada jamak taqdim (digabung di waktu pertama) dan jamak ta’khir (digabung di waktu kedua). Dalam konteks umroh, jamak sering paling terasa manfaatnya saat: proses check-in panjang, antre imigrasi, jadwal boarding, atau transit yang bikin shalat di waktu normal jadi sangat sulit. Prinsip aman: gunakan jamak sebagai “solusi kondisi”, bukan kebiasaan tanpa kebutuhan.

Contoh skenario perjalanan Jakarta–Jeddah

Skenario A (bandara padat, takut kelewat): anda bisa jamak taqdim Zhuhur+Ashar sebelum berangkat ke bandara (kalau memang sesuai syarat rujukan yang anda pegang), sehingga anda tidak panik saat proses boarding. Lalu Isya bisa qashar di pesawat atau setelah mendarat sesuai kondisi.

Skenario B (lebih longgar): shalat Zhuhur normal sebelum berangkat, lalu Ashar qashar di bandara ketika waktunya masuk. Maghrib dan Isya bisa jamak ta’khir (digabung di waktu Isya) jika perjalanan membuat Maghrib sulit.

Tip kecil tapi ngaruh: sebelum hari H, tulis “rencana shalat” di Notes HP: perkiraan jam masuk waktu shalat (Indonesia vs Saudi), titik shalat (rumah, bandara, pesawat), dan opsi cadangan (jamak taqdim/ta’khir). Anda jadi tidak panik dan tidak debat di lokasi.

Kesalahan Umum

Salah paham jarak dan status musafir

Kesalahan paling sering: menganggap semua perjalanan otomatis boleh qashar. Padahal ada pembahasan syarat (jarak dan status “keluar dari batas mukim”) yang perlu dipahami sesuai rujukan. Kalau anda ragu, ambil opsi aman: shalat sempurna (tidak qashar) ketika memungkinkan, dan gunakan jamak hanya saat benar-benar butuh.

Menggabungkan jamak-qashar tanpa kebutuhan

Jamak-qashar itu rukhsah. Sayang kalau dipakai “asal ringkas” padahal kondisi memungkinkan shalat normal. Pada umroh, biasanya kebutuhan jamak muncul karena manajemen waktu (rombongan, bus, jadwal ziarah), bukan karena “ingin cepat”. Jadikan rukhsah sebagai strategi saat diperlukan, bukan default.

Apa yang Jarang Dibahas

1) Shalat sunnah di miqat vs shalat sunnah sebelum berangkat. Banyak jamaah mencampur dua hal ini. Dalam praktik manasik, sering disebutkan shalat sunnah 2 rakaat di lokasi miqat sebelum niat ihram (ketika memungkinkan), sebagaimana dijelaskan dalam artikel Kemenag NTT tentang miqat dan larangan ihram. Ini beda konteks dengan shalat sunnah sebelum keluar rumah di Indonesia. Kalau anda ingin rapi: “sebelum berangkat” adalah bab safar, sedangkan “di miqat” adalah bab memulai ihram. Rujukan miqat: https://ntt.kemenag.go.id/opini/808/catat-ini-tempat-miqat-dan-larangan-ihram-bagi-jemaah-haji.

2) “Plan B” shalat di pesawat. Banyak orang baru mikir saat sudah duduk di kursi. Padahal, yang paling membantu adalah mencegah situasi mepet: gunakan jamak sebelum boarding bila anda memperkirakan tidak bisa berdiri/berwudhu dengan nyaman. Kalau tetap harus shalat di pesawat, siapkan: kaus kaki bersih, botol kecil untuk wudhu minimal, dan peta arah kiblat dari kru (atau perkiraan arah). Dalam kondisi darurat, fiqih punya ruang kemudahan, tapi sebaiknya bukan pilihan pertama.

3) Komunikasi di rombongan. Ini terdengar sepele, tapi sering bikin konflik: sebagian ingin shalat sunnah dulu, sebagian ingin langsung berangkat. Solusi paling damai: tetapkan “waktu baku” (mis. kumpul jam X), dan siapa yang ingin shalat sunnah silakan mulai 10 menit lebih awal. Dengan begitu, sunnah jalan, logistik juga aman.

FAQ

Apakah shalat sunnah safar sebelum berangkat itu wajib?

Tidak wajib. Sebagian rujukan menganjurkan sebagai sunnah 2 rakaat sebelum bepergian, sementara rujukan lain menilai hadis-hadis khususnya lemah. Yang wajib adalah menjaga shalat fardhu. Kalau anda memilih mengerjakan, posisikan sebagai sunnah, bukan syarat.

Apakah boleh shalat sunnah safar di bandara?

Boleh, selama waktunya memungkinkan dan tempatnya layak. Namun ingat: inti keringanan safar adalah menjaga shalat wajib tetap tertunaikan. Kalau kondisi bandara justru membuat anda berisiko ketinggalan shalat wajib, prioritaskan pengaturan jamak/qashar sesuai kebutuhan.

Bagaimana kalau ragu status musafir: qashar atau tidak?

Ambil opsi aman: shalat sempurna (tanpa qashar) ketika memungkinkan, dan gunakan jamak hanya saat diperlukan. Untuk jangka panjang, pilih satu rujukan fiqih yang anda percaya (ustadz/kitab/organisasi) lalu konsisten, supaya tidak bingung setiap perjalanan.

Daftar Istilah

Safar
Kondisi bepergian yang dalam fiqih memberi rukhsah (keringanan) untuk beberapa ibadah.
Rukhsah
Keringanan syariat karena ada uzur/kondisi tertentu, misalnya safar.
Qashar
Memendekkan shalat 4 rakaat menjadi 2 rakaat (Zhuhur, Ashar, Isya) ketika safar.
Jamak
Menggabungkan dua shalat dalam satu waktu: Zhuhur+Ashar atau Maghrib+Isya.
Jamak taqdim/ta’khir
Taqdim: digabung di waktu shalat pertama. Ta’khir: digabung di waktu shalat kedua.

Penutup

Berangkat umroh itu bukan cuma soal koper dan itinerary, tapi juga soal menjaga ibadah tetap tertib di tengah mobilitas. Kalau anda ingin versi paling praktis: shalat sunnah 2 rakaat sebelum berangkat (bila anda memilih mengamalkannya), lalu buat rencana jamak-qashar yang realistis untuk bandara dan penerbangan.

Yang terpenting: jangan saling menyalahkan di rombongan karena perbedaan praktik shalat sunnah safar. Fokus pada tujuan besarnya—menjaga yang wajib, memudahkan yang sunnah, dan berangkat dengan hati yang tenang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top