Amanah Travel Umroh

Cara tawaf wada umrah itu sederhana: jadikan tawaf sebagai amalan terakhir sebelum keluar dari Makkah. Di artikel ini anda dapat panduan singkat, aturan penting, dan kesalahan yang sering bikin bingung.

Cara Tawaf Wada Umrah: Panduan Singkat yang Benar (Tidak Ribet)

Jamaah di Masjidil Haram melihat Ka'bah
Sumber: Nashaat Salah (Pexels) — Lisensi: Pexels License

Untuk siapa panduan ini? Buat jamaah umrah yang ingin “pamitan” dari Baitullah dengan tenang, tanpa drama perdebatan istilah, dan tetap aman secara fiqih.

Kapan paling kepakai? Saat anda sudah selesai umrah (tawaf umrah + sa’i + tahallul), lalu masih tinggal beberapa hari di Makkah dan ingin memastikan amalan terakhir sebelum pulang itu rapi.

Istilah “tawaf wada’” sering terdengar saat haji. Karena itu, banyak jamaah umrah jadi ragu: “Umrah perlu tawaf wada nggak?” Jawaban ringkasnya: umumnya tidak wajib. Tapi, kalau anda mau menutup kunjungan ke Masjidil Haram dengan tawaf sunnah sebelum keluar Makkah, itu termasuk amalan baik—selama dilakukan dengan cara yang tepat.

Ringkasan

Tawaf wada umrah pada praktiknya adalah tawaf sunnah perpisahan yang anda lakukan menjelang keluar dari Makkah. Mayoritas ulama menyatakan tidak wajib untuk umrah, dan tidak ada denda jika ditinggalkan. Panduan di bawah fokus pada cara yang aman: jadikan tawaf sebagai amalan terakhir (kecuali urusan kecil yang memang dibolehkan), lakukan 7 putaran, lalu keluar dengan tenang tanpa hal-hal yang membatalkan “perpisahan”.

Daftar Isi

Inti Penting

  • Umrah tidak mensyaratkan tawaf wada. Mayoritas ulama: tidak wajib, tidak ada dam/denda jika ditinggalkan.
  • Kalau ingin melakukannya: lakukan mendekati waktu keluar Makkah dan usahakan itu amalan terakhir.
  • Teknisnya sama seperti tawaf biasa: 7 putaran, Ka’bah di kiri, mulai-sejajar Hajar Aswad.
  • Jangan memberatkan diri dengan rebutan sentuh Hajar Aswad atau memaksa doa tertentu.
  • Perempuan haid pada prinsipnya tidak tawaf; konsultasikan pembimbing jika terjadi kasus khusus.

Apa Itu Tawaf Wada dalam Umrah dan Kenapa Banyak yang Bingung

Secara bahasa, wada’ berarti perpisahan. Dalam konteks manasik, “tawaf wada” dikenal sebagai tawaf perpisahan sebelum meninggalkan Makkah. Problemnya: banyak jamaah mengira semua orang yang keluar Makkah wajib melakukannya. Padahal, pembahasannya berbeda antara haji dan umrah.

Pada umrah, anda sudah punya tawaf umrah (rukun). Setelah itu masih ada sa’i dan tahallul. Sementara tawaf wada untuk umrah biasanya dipahami sebagai tawaf sunnah menjelang pulang—bukan rukun dan bukan wajib. Beberapa rujukan yang sering dipakai pembimbing Indonesia: artikel Rumaysho tentang tawaf wada umrah dan jawaban fatwa (misalnya IslamQA). Anda bisa baca rujukan berikut untuk memperdalam:

Hukum Tawaf Wada untuk Umrah

Ringkas Pendapat Ulama

Garis besarnya begini:

  • Haji: tawaf wada dibahas sebagai kewajiban (wajib) oleh jumhur, dengan pengecualian tertentu (misalnya wanita haid).
  • Umrah: banyak ulama menyatakan tidak wajib; sebagian menyebutnya afdholiyah (lebih utama) jika dilakukan.

Kalau anda butuh bacaan yang enak (bahasa Indonesia) dan langsung “to the point”, dua rujukan ini cukup sering dipakai:

Kapan Disunnahkan Dilakukan

Tawaf perpisahan untuk umrah biasanya dianjurkan (sebagai sunnah) terutama bila:

  • Anda tinggal beberapa hari di Makkah setelah umrah, lalu ingin menjadikan momen keluar kota sebagai penutup ibadah di Masjidil Haram.
  • Anda ingin menjaga adab: “kalau bisa, pamitan ke Baitullah dengan tawaf, bukan sekadar foto terakhir”.

Catatan penting: jangan memaksakan diri kalau kondisi fisik tidak memungkinkan atau situasi sangat padat.

Kapan Waktu Terbaik Melakukan Tawaf Wada

Patokan “amalan terakhir” sebelum keluar Makkah

Intinya: kalau anda memilih melakukan tawaf wada, usahakan tawaf itu yang terakhir sebelum benar-benar meninggalkan Makkah. Yang dimaksud “terakhir” bukan berarti anda tidak boleh minum, ke toilet, atau ambil barang. Maksudnya: jangan habiskan sisa hari untuk aktivitas yang “berat” setelah tawaf, seperti jalan-jalan jauh, belanja berjam-jam, atau bermalam lagi tanpa kebutuhan.

Kalau setelah tawaf anda masih menginap

Kalau ternyata jadwal berubah dan anda masih menginap semalam atau melakukan aktivitas besar setelah tawaf, sebagian ulama menyarankan tawaf perpisahan itu diulang menjelang keluar. Dalam praktik, banyak pembimbing mengambil jalan aman: tawaf perpisahan dilakukan sedekat mungkin dengan waktu berangkat (misalnya beberapa jam sebelumnya).

Langkah Cara Tawaf Wada Umrah

Persiapan 5 menit

  • Pastikan suci (wudhu) dan pakaian rapi. Untuk tawaf, bersuci itu penting.
  • Matikan “mode buru-buru”. Ambil posisi yang aman dari desakan. Keselamatan lebih penting daripada “ngejar spot”.
  • Kalau anda butuh gambaran step resmi versi platform Saudi, cek “Umrah Journey” di Nusuk: https://umrah.nusuk.sa/Journey

Tujuh putaran tawaf

  1. Mulai dari Hajar Aswad: ambil garis sejajar Hajar Aswad (tidak harus menempel). Kalau bisa, angkat tangan/isyarat dan bertakbir tanpa menyakiti orang.
  2. Ka’bah di kiri dan berjalan berlawanan arah jarum jam.
  3. Hitung 7 putaran. Satu putaran = dari Hajar Aswad kembali ke Hajar Aswad.
  4. Jaga adab: tidak perlu berdesakan untuk mencium Hajar Aswad; isyarat dari jauh itu sah.

Shalat dua rakaat dan penutup

Setelah selesai 7 putaran:

  • Shalat 2 rakaat (bila memungkinkan) di area belakang Maqam Ibrahim atau area mana pun di Masjidil Haram yang tidak mengganggu jamaah lain.
  • Berdoa singkat. Tidak ada “paket doa wajib” yang harus dihafal.
  • Keluar Masjidil Haram dengan tenang. Banyak ulama menganjurkan memperbanyak dzikir, istighfar, dan doa agar Allah menerima amalan.

Dzikir dan Doa Saat Tawaf

Doa sederhana yang aman

Prinsip aman: berdoa dengan bahasa yang anda pahami. Anda bisa selingi dengan:

  • Takbir, tahmid, tahlil, shalawat.
  • Doa memohon ampun, penerimaan amal, dan keselamatan keluarga.

Hindari maksa hafalan panjang

Kesalahan klasik: jamaah memaksa membaca buku doa panjang sambil berjalan, akhirnya kehilangan fokus, tersandung, atau terpencar dari rombongan. Kalau anda membawa doa tertulis, pakai sebagai “pengingat”, bukan sebagai beban.

Kesalahan Umum Tawaf Wada yang Sering Terjadi

  • Melakukan tawaf terlalu awal lalu masih belanja/ziarah panjang, sehingga “perpisahan” jadi tidak relevan.
  • Berdesakan mencium Hajar Aswad sampai mendorong orang lain. Ini berisiko dan tidak sebanding dengan sunnahnya.
  • Salah hitung putaran karena ngobrol atau berhenti lama tanpa sadar.
  • Memotong area Hijr Ismail (setengah lingkaran di samping Ka’bah) dari dalam—ini membuat putaran tidak mengelilingi Ka’bah secara utuh.
  • Gagal menjaga kekhusyukan karena fokusnya “konten” (foto/video) lebih dari ibadah.

Kondisi Khusus: Haid, Sakit, Kursi Roda, dan Super Padat

1) Haid/nifas. Pada umumnya, tawaf mensyaratkan suci. Jika anda sedang haid, jangan memaksakan tawaf. Di kondisi seperti ini, pembimbing biasanya memberi arahan khusus sesuai situasi (jadwal pulang, kemungkinan menunggu suci, dan seterusnya). Untuk gambaran pembahasan kasus, anda bisa lihat format tanya-jawab seputar tawaf dan umrah di IslamQA: https://islamqa.info/id/answers/39814

2) Sakit/uzur. Kalau fisik drop, prioritaskan keselamatan. Tawaf dengan kursi roda bisa menjadi opsi. Pastikan anda tetap mengikuti arah tawaf dan menghitung putaran dengan rapi.

3) Sangat padat. Pilih lantai/level yang lebih longgar. Tidak masalah lebih jauh dari Ka’bah asalkan masih berada di area tawaf yang benar dan arah putarannya tepat.

Checklist Tawaf Wada 15 Menit Sebelum Berangkat

  • ✅ Pastikan koper beres (sehingga setelah tawaf anda tidak perlu “urusan besar” lagi).
  • ✅ Wudhu dan bawa botol kecil air/semprot untuk kenyamanan.
  • ✅ Tentukan titik kumpul rombongan setelah tawaf.
  • ✅ Set niat: “Ya Allah, jadikan ini perpisahan yang baik, terimalah amal kami.”
  • ✅ Setelah tawaf: batasi aktivitas pada hal yang wajar (ambil barang, menuju transport, makan singkat bila perlu).

Apa yang Jarang Dibahas

1) Tawaf wada itu “strategi energi”, bukan sekadar teori fiqih. Banyak jamaah sudah paham putaran 7 kali, tapi tetap “kehabisan jiwa” di momen pamitan. Penyebab paling umum: tawaf perpisahan diletakkan setelah rangkaian aktivitas yang menguras tenaga (belanja panjang, kurang minum, tidur pendek, jalan jauh). Kalau anda ingin momen ini terasa berisi, sisakan energi 20–30% untuk ibadah pamungkas dan atur ulang ritme: makan ringan, minum cukup, lalu tawaf.

2) Makna “amalan terakhir” sering bentrok dengan realita logistik hotel. Check-out, antrian lift, bus yang menunggu, dan jadwal rombongan bisa membuat jamaah harus memilih: “tawaf dulu atau beresin koper dulu?”. Secara praktik, cara paling aman adalah selesaikan urusan besar (packing, pembayaran, kunci kamar, pembagian koper) sebelum tawaf. Setelah tawaf, batasi aktivitas pada hal yang wajar: ambil koper yang sudah siap, menunggu teman, lalu menuju kendaraan.

3) Banyak jamaah terlalu fokus “menyentuh” dan lupa “mengelilingi”. Tawaf itu ibadah mengelilingi Ka’bah. Rebutan menyentuh Hajar Aswad atau Multazam itu sunnah/keutamaan, tapi tidak boleh merusak adab (mendorong, mengumpat, melukai) dan tidak boleh membuatmu kehilangan putaran atau masuk ke area yang keliru.

4) Doa yang paling membantu adalah doa yang anda pahami. Anda tidak wajib membaca doa tertentu di tiap putaran. Pilih 2–3 tema doa yang memang anda butuhkan (ampunan, penerimaan amal, keluarga, kesehatan, rezeki halal), lalu ulangi dengan sadar. Ini sering membuat tawaf terasa lebih tenang daripada mengejar “paket doa lengkap” yang membuatmu sibuk mencari halaman.

5) Perlu verifikasi: alur masuk/keluar dan pembatasan area tawaf bisa berubah mengikuti kebijakan operasional Masjidil Haram (pembagian jalur, jam puncak, atau pengaturan crowd control). Saat sudah di lokasi, cek info terbaru dari pembimbing rombongan atau petugas setempat agar anda tidak kehabisan waktu hanya karena salah jalur.

FAQ

Apakah tawaf wada wajib saat umrah?

Mayoritas ulama menyatakan tidak wajib untuk umrah. Jika ditinggalkan, tidak berdosa dan tidak ada denda. Namun sebagian ulama memandang melakukannya sebagai amalan sunnah yang baik ketika hendak keluar Makkah.

Tawaf wada berapa putaran?

Seperti tawaf pada umumnya: 7 putaran, mulai dari sejajar Hajar Aswad sampai kembali ke titik awal untuk putaran ketujuh.

Setelah tawaf wada boleh belanja oleh-oleh?

Kalau anda ingin menjadikannya “perpisahan”, sebaiknya hindari belanja panjang setelah tawaf. Aktivitas kecil yang dibutuhkan (ambil barang, menunggu kendaraan) biasanya dimaklumi. Kalau belanjanya besar dan lama, lebih aman jadwalkan tawaf wada mendekati waktu berangkat.

Kalau haid, bagaimana tawaf wada?

Umumnya, wanita haid tidak tawaf karena tawaf mensyaratkan suci. Dalam kasus umrah, karena tawaf wada bukan kewajiban, anda tidak perlu memaksakan diri. Kalau ada situasi khusus (misalnya belum sempat tawaf umrah), ikuti arahan pembimbing dan rujuk fatwa terpercaya.

Daftar Istilah

Tawaf
Mengelilingi Ka’bah 7 putaran dengan Ka’bah di sisi kiri.
Tawaf Umrah
Tawaf yang termasuk rukun umrah (wajib ada agar umrah sah).
Tawaf Wada
Tawaf perpisahan sebelum meninggalkan Makkah; pada umrah umumnya dipahami sebagai sunnah.
Sa’i
Berjalan 7 kali antara Shafa dan Marwah, dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah.
Tahallul
Keluar dari ihram setelah memotong rambut (memendekkan/ mencukur bagi laki-laki; memendekkan bagi perempuan).

Penutup

Kalau anda ingin menutup perjalanan umrah dengan tawaf wada, buatlah sederhana: lakukan tawaf 7 putaran, shalat dua rakaat, berdoa singkat, lalu jadikan itu penutup sebelum keluar Makkah. Jangan ubah ibadah jadi ajang “uji nyali” berdesakan atau ajang panik karena jadwal.

Paling penting: pahami bahwa umrah sah tanpa tawaf wada. Jadi, kalau kondisimu tidak memungkinkan, pulanglah dengan tenang—tetap jaga adab, dzikir, dan niat baik. Semoga Allah menerima umrahmu dan mengundangmu kembali ke Baitullah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top