Amanah Travel Umroh

Penjelasan adzan sebelum berangkat umroh: makna, hukum menurut rujukan NU, cara praktik yang sopan, dan alternatif doa jika tidak ingin adzan.

Adzan Sebelum Berangkat Umroh: Panduan Singkat

Ka'bah di Masjidil Haram, Makkah
Sumber: Wikimedia Commons — Lisensi: CC BY-SA 4.0

Untuk keluarga yang akan melepas: Anda sering melihat tradisi adzan (kadang diikuti iqamah) saat jamaah haji/umroh berangkat. Artikel ini membantu Anda paham maknanya dan cara menjalankannya dengan adab.

Untuk panitia/rombongan: Anda butuh SOP singkat: kapan dilakukan, siapa yang adzan, dan bagaimana menjaga agar tidak mengganggu sekitar.

Istilah “adzan sebelum berangkat umroh” sering disalahpahami. Ada yang mengira ini seperti adzan shalat “sebelum masuk waktu”, ada juga yang langsung menolak tanpa melihat rujukan fikih. Di kalangan NU, ada pembahasan khusus tentang kesunahan adzan dan iqamah mengiringi keberangkatan musafir (termasuk jamaah umroh) dengan rujukan hadits dan syarah ulama.

Ringkasan

Menurut rujukan NU (misalnya NU Jatim dan NU Online), mengumandangkan adzan dan iqamah untuk mengiringi keberangkatan jamaah haji atau umroh dipandang sunah dalam konteks tertentu, dengan rujukan riwayat dan penjelasan dalam literatur fikih.

Praktik amannya: lakukan singkat, tidak mengganggu, dan pahami bahwa ini berbeda dari adzan sebagai penanda masuk waktu shalat. Kalau lingkungan tidak mendukung, cukup doa pamit dan doa perjalanan—manfaatnya tetap besar.

Daftar Isi

Inti Penting

  • Dalam rujukan NU, adzan+iqamah mengiringi musafir bisa bernilai sunah, selama safarnya bukan untuk maksiat.
  • Bedakan “adzan pelepasan musafir” dengan “adzan shalat” (yang terkait masuk waktu).
  • Jalankan singkat, sopan, dan tidak memaksa; fokus utamanya tetap doa dan tawakal.
  • Kalau lingkungan sensitif (apartemen, malam hari), pilih alternatif: doa pamit dan doa perjalanan.

Apa Itu "Adzan Sebelum Berangkat Umroh"?

Yang dimaksud di sini adalah adzan (kadang disertai iqamah) yang dikumandangkan untuk mengiringi keberangkatan jamaah—biasanya saat jamaah mulai keluar rumah atau saat rombongan berangkat dari titik kumpul. Ini bukan “adzan shalat yang dipercepat”, melainkan tradisi pelepasan musafir yang dibahas pada bab tersendiri.

Bentuk yang umum di Indonesia

  • Adzan dikumandangkan sekali, kadang dilanjut iqamah.
  • Biasanya di halaman rumah, masjid, atau titik kumpul rombongan.
  • Diakhiri dengan doa bersama singkat dan salaman.
  • Sering disatukan dengan walimatus safar (doa bersama sebelum keberangkatan).

Tujuan spiritualnya

Secara rasa, adzan memberi “tanda mulai” yang sakral: mengingatkan bahwa perjalanan ini ibadah, meminta perlindungan, dan menguatkan jamaah. Ia juga menjadi momen berhenti sejenak dari urusan teknis (koper, paspor, jadwal) untuk kembali ke niat: beribadah dan mencari ridha Allah.

Hukum dan Dalil Menurut Rujukan NU Online

NU Jatim menjelaskan bahwa mengumandangkan adzan dan iqamah mengiringi keberangkatan jamaah haji atau umroh dipandang sunah, dengan rujukan riwayat dan penjelasan kitab fikih. Rujukan NU Jatim.

Dalil kesunahan adzan dan iqamah mengiringi musafir

NU Online juga memuat pembahasan “anjuran adzan jelang berangkat haji” yang mengutip penjelasan ulama tentang kesunahan adzan dan iqamah bagi orang yang hendak bepergian, selama perjalanan itu bukan untuk maksiat. Rujukan NU Online.

Poin praktisnya: kalau keluarga/rombongan menjalankan tradisi ini, niatkan sebagai amalan sunah (bukan syarat), dan tetap jaga adab. Jika ada perbedaan pandangan di keluarga, hindari debat di hari keberangkatan—pilih format yang paling menenangkan jamaah.

Catatan penting: bedakan dengan adzan shalat

Dalam fikih, adzan untuk shalat wajib berfungsi mengumumkan masuknya waktu. Karena itu, adzan shalat (selain Subuh) tidak dilakukan sebelum waktunya. NU juga menjelaskan kaidah ini saat membahas adzan sebelum masuk waktu Subuh. Rujukan Islam NU.

Kesimpulannya: jangan menyamakan dua konteks ini. “Adzan shalat” mengikuti aturan waktu. “Adzan pelepasan musafir” (menurut rujukan NU tertentu) berada pada konteks pengiring keberangkatan. Memahami ini membuat Anda lebih tenang saat menjelaskan ke keluarga yang bertanya.

Panduan Singkat Praktik yang Aman dan Sopan

Berikut susunan acara super ringkas (±7 menit) yang biasanya cukup: (1) adzan (opsional iqamah), (2) doa pamit 1 kali, (3) salaman dan naik kendaraan. Tidak perlu panjang supaya jamaah tidak terburu-buru dan tidak mengganggu sekitar.

Kapan dan di mana dilakukan

  • Paling umum: saat jamaah mulai keluar rumah atau saat bus/rombongan mulai bergerak.
  • Lokasi: halaman rumah/titik kumpul—hindari tempat yang mengganggu lalu lintas atau tetangga.
  • Durasi: singkat; setelahnya langsung doa pamit (1 doa) dan salaman.
  • Jika berangkat subuh/pagi buta, pertimbangkan lakukan di dalam rumah tanpa pengeras suara.

Siapa yang mengumandangkan

  • Idealnya yang paham lafaz adzan dan tajwid dasar.
  • Boleh dari keluarga, takmir masjid, atau panitia rombongan.
  • Tidak perlu banyak orang; cukup satu muadzin.
  • Jika jamaah perempuan berangkat dari rumah tanpa hadirin laki-laki, fokuskan pada doa pamit; adzan tidak harus dipaksakan.

Volume suara dan etika lingkungan

  • Gunakan volume wajar (terutama di pemukiman padat atau jam malam).
  • Hindari speaker berlebihan jika rawan menimbulkan keluhan.
  • Jika di apartemen/perumahan ketat, lakukan tanpa pengeras suara atau pilih alternatif doa saja.
  • Tujuan Anda ibadah dan doa, bukan membuat semua orang “wajib dengar”.

Alternatif Jika Tidak Ingin Adzan

Kalau Anda ragu, tidak nyaman, atau kondisi lingkungan tidak mendukung, Anda tetap bisa melepas jamaah dengan amalan yang disepakati luas: doa pamit dan doa perjalanan. Ini sering menjadi opsi paling aman untuk menghindari salah paham dan menjaga suasana tetap hangat.

Doa dan dzikir yang disepakati luas

  • Doa melepas musafir versi NU: “Zawwadakallâhut taqwâ…” lihat rujukan.
  • Doa berangkat dari rumah dan doa naik kendaraan dari kumpulan doa haji-umrah NU: Quran NU Online.
  • Jika ingin ada “seruan” tanpa adzan, cukup bacakan shalawat atau tahlil pelan, lalu doa bersama.

Kesalahan yang Sering Terjadi

  • Menganggap wajib: seolah-olah tanpa adzan keberangkatan “tidak berkah”.
  • Mengganggu lingkungan: speaker terlalu keras atau dilakukan larut malam.
  • Mencampur adzan shalat: menganggap ini adzan penanda waktu shalat, padahal konteksnya berbeda.
  • Lupa inti ibadah: terlalu fokus seremoni, tapi jamaah kurang dibekali ilmu manasik dan persiapan kesehatan.

Apa yang Jarang Dibahas

1) “Sunah” tidak berarti “harus dilakukan di semua kondisi”. Dalam praktik sosial, ada tempat yang sensitif terhadap suara pengeras. Menjaga ketertiban dan tidak menyakiti orang lain juga bagian dari adab. Jadi, jika Anda khawatir memicu konflik, memilih doa pamit tanpa adzan bisa jadi lebih maslahat.

2) Inti pelepasan musafir adalah doa dan penguatan hati. Adzan hanyalah salah satu bentuk pengiring. Jika adzan membuat jamaah malah tegang (misalnya karena terburu-buru), sederhanakan: doa pamit 1 kali, peluk orang tua, berangkat.

3) Bedakan “ritual” dengan “fungsi”. Adzan shalat punya fungsi pengumuman waktu; itu sebabnya ada aturan ketat soal waktu. Sementara adzan pelepasan musafir dibahas dalam konteks berbeda pada sebagian literatur. Memahami perbedaan ini menghindarkan kita dari debat yang tidak perlu di level keluarga.

4) Rencanakan “pengganti” jika adzan tidak memungkinkan. Misalnya Anda berangkat dari hotel atau bandara, atau keberangkatan jam 02.00–03.00. Di kondisi ini, lebih bijak fokus pada doa pamit dan doa perjalanan di kendaraan. Bahkan doa keluar rumah dan doa naik kendaraan yang rutin dibaca harian sering lebih “menancap” daripada seremoni sekali seumur hidup.

5) Jangan lupa “SOP praktis umroh”. Banyak keluarga menyiapkan acara pelepasan, tapi lupa hal kecil: fotokopi paspor, asuransi perjalanan, obat pribadi, serta prosedur darurat jika jamaah terpisah dari rombongan. Menutup acara dengan briefing 5 menit sering lebih berharga daripada menambah seremonial.

FAQ

Apakah harus adzan dan iqamah sekaligus?

Tidak harus. Di lapangan ada yang hanya adzan, ada yang adzan lalu iqamah. Jika ingin ringkas, cukup satu saja lalu lanjut doa pamit.

Bolehkah adzan sebelum berangkat jika bukan waktu shalat?

Dalam rujukan NU yang membahas pelepasan musafir, adzan/iqamah dipahami sebagai pengiring keberangkatan (bab tersendiri), bukan adzan shalat penanda waktu. Namun jika Anda ragu atau khawatir salah paham, pilih doa pamit yang jelas dan tidak memicu perdebatan.

Jika ada tetangga keberatan, apa solusi terbaik?

Pilih opsi paling damai: lakukan tanpa pengeras suara, pindahkan ke dalam rumah, atau tidak adzan sama sekali dan cukup doa pamit. Tujuannya melepas jamaah dengan baik, bukan memenangkan debat.

Daftar Istilah

Adzan
Seruan untuk shalat; dalam konteks tertentu juga dibahas sebagai bacaan pengiring pada kondisi khusus menurut sebagian literatur fikih.
Iqamah
Seruan pendek menjelang shalat berjamaah; sebagian tradisi melekatkannya setelah adzan saat pelepasan musafir.
Muadzin
Orang yang mengumandangkan adzan.
Safar
Perjalanan jauh; dalam fikih memiliki adab dan beberapa keringanan ibadah.

Penutup

Jika keluarga Anda nyaman dan lingkungannya mendukung, adzan sebelum berangkat umroh bisa dijalankan secara singkat sebagai amalan sunah menurut rujukan NU. Kuncinya: pahami konteksnya, jaga adab, dan jangan mengganggu.

Namun kalau Anda ragu, tidak perlu memaksakan. Doa pamit yang jelas sumbernya dan doa perjalanan dari rumah sudah sangat cukup. Semoga Allah mudahkan perjalanan umroh, menjaga jamaah, dan menerima ibadahnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top