Doa Sa’i Rumaysho: Bacaan, Kapan Dibaca, dan Urutan Praktis

Jamaah di Masjidil Haram, Makkah
Sumber: Sulthan Auliya (Unsplash) — Lisensi: Unsplash License

Artikel ini buat anda yang lagi nyiapin umroh dan kepikiran, “Doa sa’i itu yang benar yang mana, ya?” Tenang—kebingungan ini wajar, karena di lapangan kita ketemu banyak buku manasik yang menuliskan bacaan berbeda-beda.

Di Rumaysho, garis besarnya jelas: sa’i tidak punya dzikir atau doa yang wajib dan baku. Yang ada adalah dzikir dan doa yang dianjurkan di titik-titik tertentu, lalu selebihnya anda bebas berdoa apa pun untuk diri sendiri dan kaum muslimin.

Siapa yang paling terbantu? Jamaah pemula, yang baru pertama kali umroh, yang cemas salah baca, atau yang ingin bacaan ringkas tapi “nyambung” dengan tuntunan.

Targetnya sederhana: anda paham kapan baca apa, paham mana yang sunnah vs “doa pilihan”, dan bisa fokus ke kekhusyukan (bukan ke rasa takut salah).

Ringkasan

Sa’i adalah berjalan bolak-balik antara Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali. Menurut panduan Rumaysho, tidak ada bacaan wajib khusus selama sa’i. Yang dianjurkan: saat di Shafa dan Marwah membaca dzikir (takbir-tahlil) dan berdoa, sedangkan saat berjalan di antaranya anda boleh berdzikir dan berdoa sekehendakmu. Ada juga doa yang diriwayatkan dari sebagian sahabat yang boleh dibaca, tapi sifatnya opsional.

Daftar Isi

Inti Penting

  • Tidak ada “doa wajib” sa’i. Yang penting adalah menjalankan rukun/urutan sa’i dengan benar.
  • Di Shafa & Marwah: dianjurkan memuji Allah, takbir, tahlil, lalu doa apa saja di sela-selanya.
  • Di antara Shafa–Marwah: boleh dzikir/doa bebas. Untuk pria, ada bagian lari kecil di area lampu hijau (wanita tidak).
  • Jika ingin bacaan ringkas: pegang satu dzikir utama + satu doa singkat, lalu ulang konsisten.
  • Kalau lupa hitungan, jangan panik—pakai patokan “akhir putaran ke-7 di Marwah”.

Apa itu sa’i dan kenapa bacaan doa sering bikin bingung?

Sa’i adalah rangkaian ibadah yang meneladani perjuangan Siti Hajar saat mencari air, dilakukan dengan berjalan dari Shafa ke Marwah dan kembali lagi sampai 7 putaran. Di buku-buku manasik, sering ada daftar doa per putaran. Ini bikin jamaah merasa “kalau tidak baca, sa’i-nya salah”.

Rumaysho menekankan poin yang menenangkan: yang dituntut adalah pelaksanaannya (jumlah putaran, arah, dan adab), sedangkan bacaan selama sa’i bersifat fleksibel. Anda boleh membaca dzikir, doa, atau bacaan lain yang anda kehendaki.

Bedanya doa, dzikir, dan bacaan manasik

  • Dzikir: kalimat pujian kepada Allah (takbir, tahlil, tasbih). Ini yang sering dicontohkan di Shafa/Marwah.
  • Doa: permohonan. Saat sa’i, dianjurkan berdoa untuk diri dan kaum muslimin, bebas bahasanya.
  • Bacaan manasik: kompilasi doa dari berbagai riwayat/kitab. Bagus untuk panduan, tapi jangan dipahami sebagai kewajiban.

Kalau anda ingin rujukan: lihat panduan sa’i di Rumaysho (Panduan Umrah Ringkas (2) dan Tata Cara Pelaksanaan Umrah).

Kapan doa sa’i dibaca? Urutan praktis 7 putaran

Ini alur yang paling mudah diikuti. Anggap saja sa’i itu punya “titik fokus” di Shafa dan Marwah. Di dua titik itu anda berhenti sejenak, berdzikir dan berdoa. Di antara keduanya, anda berjalan sambil berdzikir/doa sesuai kemampuan.

Alur 1 putaran (Shafa → Marwah)

  1. Menuju Shafa: ketika mendekati Shafa, baca ayat yang masyhur: “Innaṣ-ṣafā wal-marwata min sya‘ā’irillāh” (QS Al-Baqarah: 158).
  2. Di atas/area Shafa: menghadap Ka’bah, memuji Allah, bertakbir, lalu membaca dzikir utama (contoh di bawah) dan berdoa di sela-selanya.
  3. Turun menuju Marwah: berjalan biasa sambil doa/dzikir bebas.
  4. Area lampu hijau: pria lari kecil/lebih cepat; wanita tetap jalan biasa.
  5. Sampai Marwah: lakukan dzikir & doa seperti di Shafa.

Hitungan penting: Shafa→Marwah = 1, Marwah→Shafa = 2, begitu seterusnya sampai 7 dan berakhir di Marwah.

Bacaan yang dianjurkan di Shafa & Marwah (versi Rumaysho)

Di Rumaysho, bacaan yang sering ditampilkan adalah dzikir yang dibaca Nabi saat di Shafa/Marwah: takbir dan tahlil, lalu doa di sela-selanya. Anda tidak harus hafal panjang-panjang—yang penting paham strukturnya.

Dzikir utama (takbir & tahlil)

Contoh dzikir yang disebutkan dalam panduan Rumaysho (bisa dibaca 1–3 kali, dan diselingi doa apa pun):

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

Latin ringkas: Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, lahul mulku wa lahul ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai-in qadīr. Lā ilāha illallāh waḥdah, anjaza wa‘dah, wa naṣara ‘abdah, wa hazamal aḥzāba waḥdah.

Kalau anda ingin versi tahlil yang lebih pendek untuk pemula, anda bisa mulai dari bagian pertama (tanpa kalimat “anjaza wa’dah…”), lalu tambah pelan-pelan. Referensi tahlil ringkas juga sering dibahas Rumaysho di artikel dzikir umum: Dzikir setelah shalat.

Doa sela-sela: setelah satu kali dzikir, berhenti sebentar dan berdoa bebas (minta kemudahan, ampunan, kesehatan, rezeki halal, keluarga, dan seterusnya). Inilah “momen emas” sa’i.

Bacaan saat berjalan di antara Shafa–Marwah

Saat berjalan, anda bisa memilih salah satu pola berikut supaya tidak capek mental:

  • Pola 1: tasbih–tahmid–takbir pelan sambil jalan, lalu sisipkan doa pribadi.
  • Pola 2: baca shalawat, lalu doa pendek yang anda hafal.
  • Pola 3: baca Al-Ikhlas/Al-Falaq/An-Nas, lalu doa.

Yang paling penting: jangan memaksa. Kalau anda lagi padat, ngos-ngosan, atau harus fokus menghindari dorongan jamaah, cukup dzikir pelan di hati. Sa’i bukan lomba bacaan.

Doa yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud & Ibnu Umar

Rumaysho menyebutkan ada doa yang pernah dibaca sebagian sahabat saat sa’i, dan boleh anda baca sebagai opsi:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ

Latin: Allāhumma-ghfir warḥam, wa anta al-a‘azzul akram. (Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia.)

Tips anti salah hitung dan anti “overthinking”

Kebanyakan jamaah “kehabisan tenaga” bukan karena jalannya, tapi karena kepikiran: “Tadi sudah putaran ke berapa?” Ini trik yang sering membantu:

Trik hitung 7 putaran tanpa stres

  • Patokan lokasi: setiap sampai bukit/area Marwah, cek: “ini putaran ganjil atau genap?” Karena putaran ganjil selalu berakhir di Marwah (1,3,5,7).
  • Gunakan jari: setelah selesai di Marwah, lipat satu jari. Tidak perlu aplikasi.
  • Ritual mini: setiap mulai dari Shafa, ucapkan niat di hati “ini putaran X”.
  • Kalau ragu: ambil angka yang lebih kecil (lebih aman) lalu lanjut, selama tidak berlebihan sampai jadi 8–9 putaran.

Kesalahan umum saat sa’i (yang sering kejadian di lapangan)

  • Wanita ikut lari di area lampu hijau karena ikut-ikutan rombongan.
  • Terbalik hitungan (mengira Shafa→Marwah itu “setengah”, padahal itu 1 putaran).
  • Ngoyo baca buku sampai tidak lihat jalan, akhirnya kepisah dari keluarga atau tersenggol.
  • Merasa wajib doa tertentu, sehingga panik ketika lupa satu bacaan.

Apa yang Jarang Dibahas

1) Manajemen energi itu bagian dari ibadah. Sa’i sering dilakukan setelah thawaf, ketika badan sudah lelah dan kaki mulai panas. Banyak jamaah memaksa “harus selesai cepat” lalu drop di putaran 5–7. Padahal, yang dicari adalah konsistensi dan ketenangan. Jika perlu, pelankan langkah di luar area lampu hijau dan fokus pada napas.

2) “Bacaan terbaik” adalah yang membuatmu hadir. Kalau anda membaca teks panjang tapi pikiran melayang, hasilnya nihil. Sebaliknya, satu kalimat tahlil yang anda hayati, lalu doa yang jujur dari hati—sering terasa jauh lebih mengena. Pilih bacaan minimalis yang anda pahami artinya.

3) Strategi keluarga: titik temu & peran. Kalau anda umroh dengan pasangan/anak/orang tua, tentukan sebelum mulai: siapa yang pegang hitungan, siapa yang jaga ritme, dan titik tunggu jika terpisah. Ini mengurangi kepanikan dan membuat sa’i lebih khusyuk.

4) Fokus keselamatan. Di jam padat, prioritasmu adalah tidak menyakiti orang lain dan tidak tersandung. Dzikir bisa dilakukan dalam hati. Jangan ragu berhenti di pinggir jika perlu minum atau menenangkan anak.

FAQ

Apakah ada doa khusus sa’i yang wajib dibaca?

Tidak ada doa khusus yang wajib. Rumaysho menjelaskan bahwa saat sa’i tidak ada dzikir tertentu yang diwajibkan; anda boleh berdzikir dan berdoa dengan bacaan apa pun. Yang dianjurkan adalah dzikir dan doa saat berada di Shafa dan Marwah.

Boleh nggak baca doa sendiri pakai bahasa Indonesia?

Boleh. Doa itu inti permohonan. Kalau anda lebih paham dan lebih khusyuk dengan bahasa Indonesia, silakan. Dzikir seperti takbir/tahlil tetap bagus dibaca sebagaimana lafaznya, tetapi doa permohonan bebas.

Kalau lupa hitungan putaran, gimana?

Kalau ragu, ambil hitungan yang lebih kecil (yang anda yakin) lalu lanjut sampai 7 dan berakhir di Marwah. Lebih baik menambah sedikit karena ragu daripada “memotong” putaran.

Daftar Istilah

Sa’i
Berjalan bolak-balik Shafa–Marwah sebanyak 7 putaran sebagai rangkaian umroh.
Shafa & Marwah
Dua bukit/area yang menjadi batas sa’i di Masjidil Haram.
Putaran
Satu kali perjalanan dari Shafa ke Marwah atau sebaliknya.
Lampu hijau
Penanda area lari kecil bagi pria (wanita tidak disunnahkan).
Tahlil
Dzikir “Lā ilāha illallāh …” sebagai penguatan tauhid.

Penutup

Kalau anda ingin versi paling simpel: di Shafa dan Marwah baca tahlil + takbir, lalu doa apa pun yang anda butuhkan. Di tengah jalan, dzikir/doa ringan yang anda pahami. Dengan begitu, sa’i terasa lebih hidup, bukan sekadar “mengejar bacaan”.

Semoga Allah mudahkan umrohmu, menerima sa’i-mu, dan mengembalikanmu pulang dalam keadaan lebih dekat kepada-Nya.