Amanah Travel Umroh

Apakah tawaf wada harus ambil miqat? Tidak. Miqat itu batas untuk memulai ihram, sedangkan tawaf wada dilakukan tanpa ihram. Ini aturan praktis + contoh kasus.

Apakah Tawaf Wada Harus Ambil Miqat? Aturan Praktis + Contoh Kasus

Ka'bah dan jamaah bertawaf di Masjidil Haram, Makkah
Sumber: https://unsplash.com/photos/brown-concrete-building-during-daytime-FLFjAn3gQI8 — Lisensi: Unsplash License

Artikel ini untuk jamaah umrah/haji pemula yang sering bingung membedakan “miqat” (tempat mulai ihram) dan “tawaf wada” (tawaf perpisahan).

Cocok juga untuk pendamping rombongan/travel yang butuh jawaban ringkas namun rapi: kapan harus miqat, kapan tidak, dan apa yang dilakukan kalau jadwal pulang berubah.

Di lapangan, pertanyaan “tawaf wada harus ambil miqat?” biasanya muncul karena dua hal: (1) kata wada terdengar seperti ritual baru yang butuh ihram, dan (2) ada yang pernah umrah berulang sehingga terbiasa “keluar dulu ke miqat”. Padahal, miqat itu konsep khusus untuk memulai ihram, bukan untuk menutup perjalanan.

Supaya praktis, kita pecah jadi: definisi, jawaban inti, aturan timing, lalu contoh kasus nyata (umrah sekali, umrah kedua, transit Madinah, belanja terakhir, sampai kasus wanita haid).

Ringkasan

Tidak, tawaf wada tidak perlu ambil miqat. Miqat adalah batas untuk memulai ihram haji/umrah. Sedangkan tawaf wada (tawaf perpisahan) dilakukan tanpa ihram—Anda cukup suci (wudhu) lalu bertawaf 7 putaran. Untuk umrah, banyak penjelasan ulama menyebut tawaf wada tidak wajib, namun boleh dilakukan sebagai bentuk pamitan. Rujukan praktis: https://rumaysho.com/2564-apakah-ada-thowaf-wada-pada-umroh215.html dan pembahasan “thawaf wada bagi yang umrah”: https://almanhaj.or.id/1713-thawaf-wada-bagi-yang-umrah-lebih-utamathawaf-atau-shalat-sunnah.html.

Daftar Isi

Inti Penting

  • Miqat = titik mulai ihram. Dipakai saat Anda berniat masuk ibadah haji/umrah.
  • Tawaf wada = tawaf perpisahan sebelum meninggalkan Makkah; idealnya jadi amalan terakhir.
  • Tawaf wada dilakukan tanpa ihram (tidak perlu niat ihram, tidak perlu pakaian ihram).
  • Umrah: tawaf wada tidak wajib menurut banyak penjelasan; haji: mayoritas menyatakan wajib (dengan rincian mazhab).
  • Miqat baru relevan lagi kalau Anda memulai ihram baru (misalnya umrah kedua).

Pahami: Miqat vs Tawaf Wada

Apa itu miqat dan kapan dipakai?

Miqat adalah batas tempat (dan batas waktu) yang ditetapkan syariat sebagai “gerbang” untuk memulai ihram. Kalau Anda melewati miqat dengan niat haji/umrah, mestinya Anda sudah berihram dari titik itu. Karena itu, persiapan ihram sering dilakukan menjelang miqat: mandi, memakai pakaian ihram (bagi laki-laki), lalu berniat.

Kalau butuh rujukan praktis soal sunnah-sunnah sebelum ihram (termasuk mandi, bersih-bersih, dan larangan parfum tertentu), baca: https://rumaysho.com/36936-hal-yang-disunnahkan-saat-ihram-untuk-haji-dan-umrah.html dan ringkasan tata cara ihram: https://almanhaj.or.id/2871-tata-cara-ihram.html.

Apa itu tawaf wada dan kapan dilakukan?

Tawaf wada adalah tawaf perpisahan ketika seseorang akan meninggalkan Makkah setelah menyelesaikan manasik (terutama haji). Praktiknya sama seperti tawaf biasa: mengelilingi Ka’bah 7 putaran. Setelah itu, tidak ada sa’i dan tidak ada tahallul baru—karena tawaf wada bukan pembuka ihram, melainkan penutup perjalanan.

Untuk konteks haji, pembahasan bahwa tawaf wada umumnya wajib (dan gugur bagi wanita haid) bisa dirujuk ke: https://rumaysho.com/37122-mengenal-thawaf-wada-wajib-haji-sebelum-meninggalkan-makkah.html. Untuk konteks umrah, banyak ulama menilai tidak ada kewajiban tawaf wada; ia hanya keutamaan/adab pamitan: https://rumaysho.com/2564-apakah-ada-thowaf-wada-pada-umroh215.html.

Jadi, Tawaf Wada Perlu Ambil Miqat?

Kenapa jawabannya: tidak perlu

Karena Anda tidak sedang memulai ihram. Tawaf wada bukan “umrah mini” dan tidak mensyaratkan kain ihram. Anda cukup berwudhu, masuk Masjidil Haram, lalu bertawaf. Bahkan laporan Kemenag juga menegaskan jamaah boleh memakai pakaian biasa dan tawaf wada dilakukan seperti tawaf lainnya tanpa sa’i dan tahallul: https://kepri.kemenag.go.id/page/det/jemaah-haji-kabupaten-karimun-1445h-2024m-sudah-melaksanakan-tawaf-wada-.

Rumus cepatnya: miqat = start ihram, sedangkan tawaf wada = pamitan terakhir. Start dan finish itu beda “gerbang”.

Kapan justru wajib miqat lagi

Miqat baru relevan lagi kalau Anda berniat ihram baru. Misalnya:

  • Umrah kedua/berulang saat masih di Makkah: Anda perlu keluar ke batas halal (misalnya Tan’im/Masjid Aisyah) untuk memulai ihram umrah berikutnya.
  • Anda keluar Makkah (misalnya ke Madinah/Jeddah) lalu kembali dan ingin umrah lagi: Anda berihram dari miqat yang dilewati sesuai rute kedatangan.

Intinya: miqat melekat pada niat memulai ihram, bukan pada niat “tawaf perpisahan”.

Aturan Praktis Sebelum Pulang dari Makkah

Tawaf wada harus jadi amalan terakhir

Prinsip yang paling aman: jadikan tawaf wada sebagai ibadah terakhir di Masjidil Haram sebelum Anda benar-benar meninggalkan Makkah. Artinya, setelah tawaf, Anda fokus ke proses pulang (kumpul rombongan, ambil koper yang sudah siap, lalu berangkat). Ini menjaga makna “perpisahan”.

Yang boleh dilakukan setelah tawaf wada

Dalam praktik, ada kebutuhan yang sulit dihindari: ke toilet, minum, menunggu bus, atau mengambil barang. Banyak pembahasan membolehkan hal-hal yang sifatnya seperlunya dan tidak membuat Anda memulai aktivitas duniawi panjang. Salah satu rujukan yang membahas “apa yang boleh dilakukan setelah tawaf wada” adalah penjelasan Mufti Wilayah Persekutuan: https://www.muftiwp.gov.my/en/artikel/bayan-li-al-haj/2747-bayan-li-al-haj-siri-ke-37-perkara-yang-boleh-dilakukan-selepas-tawaf-wada.

Kapan perlu mengulang tawaf wada

Kalau setelah tawaf wada Anda:

  • kembali ke hotel lalu tidur semalam lagi,
  • menghabiskan waktu belanja berjam-jam,
  • atau sengaja menunda berangkat untuk agenda non-urgent,

maka secara adab “perpisahan”, banyak pembimbing menyarankan tawaf wada dilakukan ulang mendekati jam berangkat (selama memungkinkan). Jika penundaan murni karena darurat (misal bus telat/macet ekstrem/pengaturan otoritas), biasanya tidak dipersulit.

Contoh Kasus yang Sering Terjadi

Kasus 1: Umrah sekali, lalu pulang via Jeddah

Anda selesai umrah (tawaf, sa’i, tahallul) lalu tinggal beberapa hari di Makkah. Di hari kepulangan, Anda tidak perlu “ambil miqat” hanya karena ingin tawaf wada. Kalau ingin tawaf perpisahan, lakukan mendekati jam berangkat. Setelah itu, langsung menuju titik kumpul/transport.

Kasus 2: Ingin umrah kedua sebelum pulang

Ini titik di mana miqat menjadi relevan. Skema aman:

  1. Tentukan dulu: apakah benar ingin umrah kedua, atau cukup tawaf sunnah saja.
  2. Jika umrah kedua: keluar ke batas halal (seringnya Tan’im/Masjid Aisyah), lalu berihram dari sana.
  3. Selesaikan umrah kedua sampai tahallul.
  4. Baru setelah itu (bila ingin), lakukan tawaf perpisahan mendekati jadwal pulang.

Catatan: jangan membalik urutan (tawaf wada dulu lalu umrah lagi), karena tawaf wada idealnya “pamitan terakhir”.

Kasus 3: Transit Madinah dulu, baru pulang ke Indonesia

Jika rute Anda Makkah → Madinah, maka tawaf wada (jika dikerjakan) dilakukan saat Anda meninggalkan Makkah menuju Madinah. Di Madinah, miqat baru relevan lagi jika Anda berniat umrah lagi ketika kembali ke Makkah di kesempatan berikutnya.

Kasus 4: Belanja terakhir, check-out hotel, lalu tawaf wada

Ini skenario paling “rapi”: check-out dulu, koper sudah di lobi, urusan belanja sudah selesai, lalu Anda ke Masjidil Haram untuk tawaf wada. Setelah selesai, Anda langsung bergerak ke transport. Dengan cara ini, Anda meminimalkan potensi “harus mengulang”.

Kasus 5: Wanita haid saat hendak meninggalkan Makkah

Dalam pembahasan haji, kewajiban tawaf wada umumnya gugur untuk wanita haid. Untuk umrah, karena tawaf wada sendiri tidak wajib menurut banyak penjelasan, kasus ini biasanya tidak menimbulkan kewajiban baru. Yang penting: jangan memaksakan tawaf tanpa suci. Rujuk pembimbing/ustaz rombongan untuk detail sesuai mazhab yang dipegang.

Langkah Singkat Melakukan Tawaf Wada

Syarat dan adab yang sering dilupakan

  • Wudhu dan kondisi suci.
  • Pilih slot waktu realistis, tidak mepet sampai panik.
  • Utamakan keselamatan: tidak perlu memaksa mencium Hajar Aswad saat padat.

Urutan 7 putaran yang praktis

  1. Masuk area tawaf, niat di hati: tawaf perpisahan/tawaf wada.
  2. Mulai sejajar Hajar Aswad, Ka’bah di kiri.
  3. Putaran 1–7: ikuti arus, berjalan wajar.
  4. Shalat 2 rakaat setelah tawaf jika memungkinkan (atau di area masjid mana pun).

Doa yang aman (tanpa mengejar teks panjang)

Tidak ada satu “doa wajib” khusus setiap putaran. Doa aman: zikir umum, bacaan yang Anda hafal, dan doa pribadi. Fokus utama: khusyuk dan tidak mengganggu jamaah lain.

Kesalahan Umum & Cara Menghindari

Salah kaprah tentang miqat

Kesalahan: mengira setiap tawaf harus diawali miqat dan ihram. Solusi: ingat rumus: miqat hanya untuk memulai ihram; tawaf wada tidak memulai ihram.

Salah timing: tawaf wada jauh sebelum berangkat

Kesalahan: tawaf wada pagi, tapi pulang malam, lalu siang belanja lama. Solusi: selesaikan urusan duniawi dulu, lalu tawaf di akhir mendekati berangkat.

Raml/idtiba yang tidak pada tempatnya

Raml (jalan cepat kecil) dan idtiba (bahu kanan terbuka) adalah sunnah pada kondisi tertentu (misalnya tawaf umrah/tawaf qudum bagi laki-laki). Untuk tawaf wada, umumnya tidak perlu memaksakan raml/idtiba. Jika ragu, ikuti arahan pembimbing mazhab yang Anda pegang.

Apa yang Jarang Dibahas

1) “Tawaf wada untuk umrah” sering dianggap wajib seperti haji. Padahal banyak penjelasan menyebut tidak wajib bagi umrah. Ini penting agar jamaah tidak panik jika jadwal pulang padat atau ada kendala kesehatan. Baca: https://rumaysho.com/2564-apakah-ada-thowaf-wada-pada-umroh215.html.

2) Miqat selalu dibahas sebagai “lokasi”, padahal ia juga berkaitan dengan “niat”. Anda boleh melewati miqat tanpa ihram kalau Anda memang tidak berniat haji/umrah. Karena itu, ketika Anda sudah selesai umrah dan hanya ingin tawaf perpisahan, miqat tidak berperan apa-apa.

3) Manajemen koper itu bagian dari strategi ibadah. Koper belum rapi = tawaf wada jadi terlalu jauh dari jam berangkat. Solusi paling berdampak: packing H-1, urus belanja H-2, sehingga hari H Anda tinggal fokus: tawaf pamungkas → pulang.

4) Ada ruang “kebutuhan wajar” setelah tawaf wada. Banyak jamaah takut “harus langsung keluar masjid tanpa apa-apa”. Padahal kebutuhan singkat sering dimaklumi. Yang perlu dihindari adalah jeda panjang untuk aktivitas non-urgent.

5) Kadang istilah yang paling membantu adalah “tawaf sunnah perpisahan”. Jika pembimbing Anda memilih istilah itu, pesannya tetap sama: tawaf penutup tanpa ihram, dilakukan mendekati pulang.

FAQ

Kalau umrah kedua, miqatnya dari mana?

Jika Anda berada di Makkah dan ingin umrah lagi, Anda perlu keluar ke batas halal (seringnya Tan’im/Masjid Aisyah) untuk berihram. Setelah umrah kedua selesai (tahallul), barulah Anda atur apakah ingin tawaf perpisahan mendekati jadwal pulang.

Idealnya berapa lama setelah tawaf wada langsung berangkat?

Tidak ada angka baku. Praktik aman: beri buffer untuk kembali ke hotel/lobi, naik transport, dan antisipasi macet. Prinsipnya: setelah tawaf, jangan mulai aktivitas baru yang panjang.

Boleh ziarah atau foto-foto setelah tawaf wada?

Lebih aman: selesaikan semua agenda dulu, lalu tawaf di akhir. Jika hanya foto cepat saat rombongan bergerak keluar dan tidak berlama-lama, biasanya tidak dipermasalahkan.

Kalau sudah tawaf wada lalu haid di perjalanan pulang?

Haid setelah tawaf wada tidak membatalkan tawaf yang sudah dilakukan saat suci. Yang penting: jangan melakukan tawaf saat sedang haid.

Daftar Istilah

Miqat
Batas tempat/waktu untuk memulai ihram haji atau umrah.
Ihram
Niat masuk ibadah haji/umrah yang membuat beberapa hal menjadi terlarang hingga tahallul.
Tawaf
Mengelilingi Ka’bah 7 putaran sebagai ibadah.
Tawaf Wada
Tawaf perpisahan sebelum meninggalkan Makkah.
Tan’im
Batas halal yang sering dipakai untuk miqat umrah berikutnya bagi jamaah yang sedang berada di Makkah.

Penutup

Apakah tawaf wada harus ambil miqat? Tidak. Miqat hanya untuk memulai ihram, sedangkan tawaf wada adalah tawaf penutup yang dilakukan tanpa ihram.

Jika Anda ingin umrah kedua, barulah Anda keluar ke batas miqat/batas halal untuk memulai ihram lagi—dan urutan yang rapi: selesaikan umrah dulu, baru (opsional) tawaf perpisahan mendekati pulang.

Dengan membedakan “start (miqat)” dan “finish (tawaf wada)”, Anda bisa menjaga ibadah tetap benar sekaligus meminimalkan stres di hari kepulangan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top